Aku pernah mendengar ungkapan kalau “seorang peminta-minta sampai kapan pun akan tetap jadi peminta-minta”. Aku bingung dengan ungkapan itu, padahal ada pengemis yang sampai memiliki mobil mewah, rumah besar, uangnya banyak, penghasilannya jauh melebihi penghasilanku sebagai seorang buruh.
Merenung adalah kebiasaanku yang paling aku sukai. Dalam ruang yang kecil sambil jongkok aku merenungkan ungkapan di atas, benarkah? Jika benar kenapa?
Dalam renungku, teringat ketika aku cangkruk di warkop ada seorang pengemis menghampiri dan meminta sedekah, setelah diberi dan pengemis pergi ternyata ada seseorang yang pernah tahu pengemis tersebut dan mengatakan kalau dia (pengemis) di tempat asalnya memiliki rumah yang besar dan bagus.
Ceting muncul sebuah cahaya dari luar kesadaranku dan mengatakan kalau ungkapan di atas benar adanya. Kok bisa? Ya bisalah. Mungkin begini, pengemis tersebut dari hasil mengemisnya dia dapat menghasilkan uang banyak bahkan bisa membangun rumah yang besar dan bagus di tempat asalnya. Tapi dalam kesehariannya, apakah dia bisa menikmati rumah mewahnya? Apakah dia bisa memakai baju yang layak dalam kesehariannya? Apakah bisa mengendarai kendaraan yang dimilikinya? Saya pikir tidak dalam kesehariaanya dia menggunakan pakaian yang kotor dan compang-camping dan berjalan menyusuri dari satu tempat ke tempat lainnya supaya dapat dikasihani. Bukankah dia tetap menjadi pengemis walaupun memiliki harta yang banyak.